Search This Blog

logo socmed

Facebook  Twitter  Google+  Instagram  Youtube

Saturday, October 14, 2017

Amelia & Hidayat Wedding

Syudah terlalu lama saya nggak update blog ini. Ntah karena atmosphere pengantin baru, atau memang saya malas untuk  menulis. Tapi malam ini saya niatkan untuk dapat berbagi hal yang mungkin dibutuhkan oleh para pengunjung blog ini, heheh..

Jadi ceritanya, saya dan suami yang telah menjalin kasih selama sembilan tahun akhirnya melangsungkan pernikahan pada tanggal 9 September 2017.  Wacana akan menikah mungkin sudah terdengar dari beberapa tahun yang lalu. Tapi ada saja kendalanya, mulai dari LDR, kesiapan mental bahkan materi. Tapi syukur Alhamdulillah akhirnya setelah 9 tahun berpacaran kami pun dapat melanjutkan kisah ini ke jenjang yang lebih baik.

Untuk mempersiapkan pernikahan, saya dan suami hanya memiliki waktu sekitar 3 bulan saja. Kami mengincar tanggal 9 September karena masih dalam suasana bulan haji atau bulan Djulhijah. Katanya suasana bulan haji bagus untuk melangsungkan pernikahan, dan kami pun setuju dengan tanggal yang lumayan cantik itu.

Supaya nggak ribet, saya akan menuliskan pengalaman mengurus pernikahan dalam jangka waktu tiga bulan ini, ya.

1. Mengurus NA

Agar pernikahan diakui oleh negara, maka setiap pernikahan harus di catat di kantor urusan agara atau catatan sipil. Agar dapat menikah pada tanggal sembilan September, kami pun mengurus segala kelengkapan yang diperlukan, seperti surat numpang nikah dari pihak KUA di daerah suami saya tinggal, pasphoto berlatar biru dengan berbagai ukuran, serta menyiapkan saksi. 

Karena nggak sempat untuk mengurus sendiri, untuk mengurus ke kantor Lurah, Camat hingga KUA kami serahkan ke pegawai kelurahan yang berbaik hati dapat menguruskannya. Sehingga saya tidak perlu memusingkan harus bolak-balik untuk keperluan administrasi.

Syukurnya, pada tanggal 9 September pihak penghulunya tidak kebanjiran order menikahkan pasangan lain, sehingga acara kami dapat berjalan dengan lancar dan khidmat. 



2. Bingung antara masak sendiri atau catering

Ini yang menjadi perdebatan sengit antara orang tua dan saya, hehehe.. Ayah saya sih ngototnya ingin masak sendiri untuk hidangan di acara resepsi pernikahan kami di tanggal 10 September. Tapi saya kok kurang sreg ya kalau harus repot masak-masak. Maksudnya ini kan acara yang cuma sekali seumur hidup, masa orang tua dan keluarga saya harus capek dan lelah untuk memasak untuk sekitar 1000 tamu undangan.

Jadilah pada akhirnya kami menggunakan jasa catering, yang memang di rekomendasikan oleh tante saya. Catering Ibu Anna akhirnya yang menjadi pilihan kami sesaat setelah testfood. Kami memesan sekitar 1000 porsi untuk menu buffet. Syukurnya kami mendapatkan diskon karena masih termasuk kerabat dari tante saya, hehehe..

3. Tenda dan Pelaminan

Ini yang membuat saya nggak tidur beberapa minggu, karena terus mantengin Instagram dengan hashtag #pelaminanmedan #tendamedan. Karena acara resepsi saya dan suami dilaksanakan di halaman rumah, jadi kami harus menyewa pelaminan, tenda serta perlengkapan lainnya. Sebagai orang yang nggak mau rugi, saya mencari tenda dan pelaminan yang paket komplit tapi nggak mahal. Setelah browsing sana sini, akhirya saya menemukan paket perlengkapan tenda dan pelaminan yang sangat komplit, dan harga yang masih masuk akal.

Saya akhirnya deal dengan kak Indah, yang menyediakan tenda, pelaminan, perlengkapan makan, meja-kursi, dekorasi kamar serta akad, photo dan video, serta make up dan gaun pengantin dengan harga Rp.11.000.000 per paketnya. Tapi karena satu dan lain hal, saya nggak menggunakan make-up dan gaunnya. 

Untuk hasil dari dekorasi pelaminan, dekorasi akad, dan pelayanan yang diberikan kak Indah saya cukup puas. Bunga-bunga untuk pelaminan meskipun bukan bunga hidup tapi terlihat masih sangat baru. Proses pengerjaan dari pemasangan pelaminan pun cukup cepat dan rapi. Foto dan video pun dalam 3 hari setelah selesai acara sudah diantar kerumah. Saya sangat puas dengan hasil yang ditunjukkan oleh kak Indah dalam acara resepsi saya.








4. MUA atau Bidan Pengantin

Ini yang terus terang membuat saya nggak bisa tenang sebelum hari pernikahan. Pasalnya saya nggak mau menyesal dengan riasan wajah dan males melihat foto-foto pernikahan saya nantinya. 

MUA dan bidan pengantin ternyata beda profesi. Saya sudah tanya-tanya ke beberapa MUA di kota Medan yang cukup famous, ternyata mereka rata-rata hanya merias wajah dengan ciamik, tapi tidak dengan memakaikan aksesoris, hair do atau hijab do, bahkan memakaikan baju pengantin. Jadi, kalau saya menggunakan jasa MUA, saya hanya di rias tok, dan harus mencari beberapa orang yang mengurus hijab, memakaikan aksesoris, dan memakaikan baju pengantin. Bahkan saya harus membayar lebih jika MUA stay di lokasi untuk touch up hingga acara selesai. Kalau menurut saya kurang praktis ya. 

Saya pun dengan mata sendiri, melihat hasil riasan dari MUA yang cukup terkenal lagi mahal di wajah teman saya yang menikah satu bulan sebelum saya, ternyata hasilnya nggak memuaskan sama sekali. Foundation dan bedaknya cakey, bahkan terlihat seperti memakai topeng. Padahal untuk produk yang digunakan sekelas MAC, Urban Decay, Chanel, dan merek berkelas lainnya. Jadi kok saya kurang sreg dengan MUA.

Saya sih pengennya Make-up, aksesoris, serta baju pengantin dikerjakan oleh orang yang sama. Atau paling tidak masih satu team lah. Kalau kata orang-orang sih bidan pengantin, yang memang stand by mendampingi saya, memperhatikan riasan saya jika sudah mulai bleber, dan mengingatkan saya untuk makan siang, hehehe..

Untungnya saya diingatkan oleh tante saya untuk sekedar tanya-tanya dulu ke bidan pengantin yang cukup legend di Medan, yaitu Intan Sutari. 

Saya pun segera mendatangi rumah toko Intan Sutari di jalan B. Katamso Medan. Saya pun ditanya ingin menggunakan baju adat atau modifikasi. Karena dari kecil saya ingin menggunakan Paes Jawa saat menikah, saya pun akhirnya menggunakan baju adat untuk adat Jawa dari Ayah saya, Mandailing dari Mama saya, dan Banjar dari suami saya. 

Dengan tiga pasang baju adat, riasan akad dan resepsi di hari yang berbeda, saya dikenakan biaya sekitar Rp. 6.000.000. Harga yang sangat masuk akal, dan jauh lebih murah dari MUA yang hanya make-up saja tanpa hair do atau hijab do, bahkan tanpa baju pengantin. 

Setelah berdiskusi dengan diri, suami dan orang tua, saya pun akhirnya deal dengan Intan Sutari, bidan pengantin yang cukup phenomenal di Medan.

Sebelum acara, saya dan suami pun fitting untuk baju pengantin. Untuk urusan ini saya sangat puas. Baju sangat terawat, wangi bahkan terlihat seperti baru. Warna dan ukuran apapun yang dibutuhkan pengantin tersedia dan dapat langsung di coba. Jika kebesaran akan dikecilkan, jika kekecilan masih banyak ukuran.



Untuk hasil pada acara, saya sangat-sangat puas. Make-up saya tahan satu harian tanpa cakey ataupun bleber. Untuk produk yang digunakan saya tidak bertanya lebih dalam, tapi sepenglihatan saya ketika di rias, untuk foudation menggunakan Kryolan, eye shadow dan blush on menggunakan Inez, bedak menggunakan channel, lipstik dari Sephora.






5. Undangan

Untuk ini, saya serahkan kepada percetakan tepat didepan rumah saya, Menara Gunawan. Untuk design saya memilih design yang sudah ada, hanya mengganti warna serta font yang digunakan. Untuk undangan saya memiliki budget sekitar Rp. 2500 per pc. Dan untungnya saya mendapatkan diskon harga tetangga, hehehe.. Alhamdulillah. Untuk hasilnya pun sangat memuaskan.




***

Ini sebagian kecil kebahagiaan yang bisa saya bagikan. Doakan saya dapat menjadi istri yang baik untuk suami dan keluarga saya ya.

 





10 comments:

  1. Mang bener sih MUA sm bidan penganting kalo dipikir2 perbandingannya beda x.
    Sekali lg happy wedding ya ka amel. Maaf kemarin ga bisa datang. Semoga menjadi keluarga yg samawa. Aamiinn..
    Btw, ku suka baju adat jawa nya.. Mewahh..

    ReplyDelete
  2. Baarakallahulakum wa baaraka alaykum wa jama'a bainakuma fii khairin.
    Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah ya :)

    ReplyDelete
  3. Waw 9 tahun? Memang bukan waktu yang sebentar ya. Kalau begitu selamat ya untuk pernikahannya 😃🙏

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah. Dah lega ya Mel :)

    nila_trisna

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah. Dah lega ya Mel :)

    nila_trisna

    ReplyDelete
  6. Aisshh jd inget pas nikahanku di medan juga dulu :p. Krn ortuku di medN, jd pesta awal kita adain di sana, di aceh sepakat, lalu ngundu mantu di jakarta :D. Ga begitu inget WO dan bidan pengantin yg dulu aku pake mba, krn semua diurusin ortu. Aku mah duduk manis aja.. Lgian krn aku ga tinggal di medan juga, jd ga terlalu cari tau ttg wo, catering dan semuanya.. Sempet underestimate ama perias di medan, tp ternyata dia bagusss.. :) harga juga jauuh lbh murah drpd periasku yg di jkt

    ReplyDelete
  7. Selamat mbak amel... Bagus make up n pelaminannya ku sukak... Setuju tuh mesti pilih2 MUA krn aku dpt yg zonk dan males liat foto nikahanku T.T *curcol

    ReplyDelete
  8. 9 tahun...kece banget bisa setia...pake putus nyambung gak tuh..hehheeh

    Selamat ya..semoga langgeng bahagia..adem tentram.. aamiin

    ReplyDelete
  9. Barakallahu, semoga menjadi keluarga yang samara ya mbak. Memang MUA dan Bidan pengantin hasilnya beda ya mbak, saya pun mengalaminya waktu menikah.
    Pas akad nikah yang rias sepupu yang kebetulan belajar jadi MUA, sementara pas resepsi oleh bidan pengantin. jujur, hasilnya puas yang bidan pengantin :D
    btw, salam kenal mbak :)

    ReplyDelete